Bagi calon Ibu dan Ayah di masa mendatang, penting sekali untuk merencanakan kebutuhan makanan beserta nutrisi yang terkandung untuk Si calon bayi dan Si Ibu supaya keduanya tetap dalam keadaan sehat selama masa kehamilan dan pasca melahirkan.
Dilansir dari liputan berita yang ditulis oleh Humas Universitas Gajah Mada pada 26 Januari 2016, sekitar 8,8 juta anak Indonesia menderita stunting (tubuh pendek) akibat kurang gizi/gizi buruk. Kabar terbaru 21 November 2017 pada republika.co.id, Pakar nutrisi Fasli Jalal mengatakan Indonesia menjadi negara kelima terbesar di dunia yang memproduksi bayi dan balita bertubuh pendek (stunting).
Stunting
Stunting merupakan masalah kurang gizi kronis yang disebabkan oleh asupan gizi yang kurang dalam waktu cukup lama akibat pemberian makanan yang tidak sesuai dengan kebutuhan gizi, yang ditandai dengan tinggi badan yang lebih pendek daripada tinggi badan umumnya pada usia yang sama.
Sumber gambar: https://pbs.twimg.com/media/CFVoH4sUsAAlZts.png:large
Status gizi stunted (pendek) dan severely stunted (sangat pendek) didasarkan pada indeks Panjang Badan menurut Umur (PB/U) atau Tinggi Badan menurut Umur (TB/U) yang mengacu pada Standar Antropometri Status Gizi Anak menurut Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 1995/MENKES/SK/XII/2010.
Tabel 1. Standar Panjang Badan menurut Umur Anak Laki-laki Umur 0-24 Bulan
Tabel 2.Standar Panjang Badan menurut Umur Anak Perempuan Umur 0-24 Bulan
Tabel 3. Kategori dan Ambang Batas Status Gizi Anak Berdasarkan Indeks
(Sumber: Kementrian Kesehatan RI, 2010)
Pembacaan tabel yang benar diilutrasikan dengan contoh. Misalnya, seorang balita perempuan berumur 18 bulan memiliki panjang badan 73 cm. jika dilihat pada Tabel 2., panjang badan si balita berada di antara -3SD dan -2SD. oleh karena itu dapat disimpulkan si balita perempuan masuk dalam kategori status gizi pendek (stunted).
Stunting terjadi dimulai ketika janin masih dalam kandungan dan baru nampak ketika anak berusia 2 tahun. Hal ini menggambarkan adanya masalah gizi kronis, dipengaruhi oleh kondisi Ibu/calon ibu, masa janin, dn masa bayi/balita, termasuk penyakit yang diderita selama masa balita.
Upaya Mengatasi Stunting
1. Intervensi Gizi Spesifik
Upaya ini dilakukan untuk mencegah dan mengurangi gangguan secara langsung.
Upaya intervenvensi gizi spesifik untuk balita difokuskan pada kelompok 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), yaitu Ibu Hamil, Ibu Menyusui, dan Anak 0-23 bulan, karena penanggulangan balita pendek yang paling efektif dilakukan pada 1.000 HPK. Periode 1.000 HPK meliputi yang 270 hari selama kehamilan dan 730 hari pertama setelah bayi yang dilahirkan telah dibuktikan secara ilmiah merupakan periode yang menentukan kualitas kehidupan. Oleh karena itu periode ini ada yang menyebutnya sebagai "periode emas", "periode kritis". Dampak buruk yang dapat ditimbulkan oleh masalah gizi pada periode tersebut, dalam jangka pendek adalah terganggunya perkembangan otak, kecerdasan, gangguan pertumbuhan fisik, dan gangguan metabolisme dalam tubuh. Sedangkan dalam jangka panjang akibat buruk yang dapat ditimbulkan adalah menurunnya kemampuan kognitif dan prestasi belajar, menurunnya kekebalan tubuh sehingga mudah sakit, dan risiko tinggi untuk munculnya penyakit diabetes, kegemukan, penyakit jantung dan pembuluh darah, kanker, stroke, dan disabilitas pada usia tua, serta kualitas kerja yang tidak kompetitif yang berakibat pada rendahnya produktivitas ekonomi.
Upaya intervensi tersebut meliputi:
1.Pada Ibu Hamil
- Memperbaiki gizi dan kesehatan Ibu hamil merupakan cara terbaik dalam mengatasi stunting. Ibu hamil perlu mendapat makanan yang baik, sehingga apabila ibu hamil dalam keadaan sangat kurus atau telah mengalami Kurang Energi Kronis (KEK), maka perlu diberikan makanan tambahan kepada ibu hamil tersebut.
- Setiap ibu hamil perlu mendapat tablet tambah darah, minimal 90 tablet selama kehamilan.
- Kesehatan ibu harus tetap dijaga agar ibu tidak mengalami sakit.
2. Pada saat bayi lahir
- Persalinan ditolong oleh bidan atau dokter terlatih dan begitu bayi lahir melakukan Inisiasi Menyusu Dini (IMD).
- Bayi sampai dengan usia 6 bulan diberi Air Susu Ibu (ASI) saja (ASI Eksklusif). Pada bayi, ASI sangat berperan dalam pemenuhan nutrisinya. Konsumsi ASI juga meningkatkan kekebalan tubuh bayi sehingga menurunkan risiko penyakit infeksi.
3. Bayi berusia 6 bulan sampai dengan 2 tahun
- Mulai usia 6 bulan, selain ASI bayi diberi Makanan Pendamping ASI (MP-ASI). Pemberian ASI terus dilakukan sampai bayi berumur 2 tahun atau lebih.
- Bayi dan anak memperoleh kapsul vitamin A, imunisasi dasar lengkap.
4. Memantau pertumbuhan Balita di posyandu merupakan upaya yang sangat strategis untuk mendeteksi dini terjadinya gangguan pertumbuhan.
5. Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) harus diupayakan oleh setiap rumah tangga termasuk meningkatkan akses terhadap air bersih dan fasilitas sanitasi, serta menjaga kebersihan lingkungan. PHBS menurunkan kejadian sakit terutama penyakit infeksi yang dapat membuat energi untuk pertumbuhan teralihkan kepada perlawanan tubuh menghadapi infeksi, gizi sulit diserap oleh tubuh dan terhambatnya pertumbuhan.
2. Intervensi Gizi Sensitif
Upaya ini dilakukan untuk mencegah dan mengurangi gangguan secara tidak langsung.
Intervensi gizi sensitif yang melibatkan berbagai sektor seperti ketahanan pangan, ketersediaan air bersih dan sanitasi, penanggulangan kemiskinan, pendidikan, sosial, dan sebagainya.
3. Sanitasi dan Kebersihan
Intervensi gizi saja belum cukup untuk mengatasi masalah stunting. Faktor sanitasi dan kebersihan lingkungan berpengaruh pula untuk kesehatan ibu hamil dan tumbuh kembang anak, karena anak usia di bawah dua tahun rentan terhadap berbagai infeksi dan penyakit.
Paparan terus menerus terhadap kotoran manusia dan binatang dapat menyebabkan infeksi bakteri kronis. Infeksi tersebut, disebabkan oleh praktik sanitasi dan kebersihan yang kurang baik, membuat gizi sulit diserap oleh tubuh.
Rendahnya sanitasi dan kebersihan lingkungan pun memicu gangguan saluran pencernaan, yang membuat energi untuk pertumbuhan teralihkan kepada perlawanan tubuh menghadapi infeksi. Sebuah riset menemukan bahwa semakin sering seorang anak menderita diare, maka semakin besar pula ancaman stunting untuknya. Selain itu, saat anak sakit, lazimnya selera makan mereka pun berkurang, sehingga asupan gizi makin rendah. Maka, pertumbuhan sel otak yang seharusnya sangat pesat dalam dua tahun pertama seorang anak menjadi terhambat. Dampaknya, anak tersebut terancam menderita stunting, yang mengakibatkan pertumbuhan mental dan fisiknya terganggu, sehingga potensinya tak dapat berkembang dengan maksimal.
Referensi
Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kementrian Kesehatan RI. 2013. Hasil Riset Kesehatan Dasar 2013.
Kementrian Kesehatan RI.2010.Standar Antropometri Penilaian Status Gizi Anak.
Millenium Challenge Account-Indonesia.Stunting dan Masa Depan Indonesia. http://www.mca-indonesia.go.id diakses pada 30 November 2017.
Pusat Data dan Informasi Kementrian RI. 2016. Situasi Balita Pendek. ISSN 2442-7659. diakses dari depkes.go.id
http://nasional.republika.co.id/berita/nasional/umum/17/11/21/ozrwn5430-indonesia-negara-kelima-terbesar-produksi-stunting
https://ugm.ac.id/id/berita/11098-88.juta.anak.indonesia.alami.stunting




