Kamis, 30 November 2017

Mengatasi Stunting - Langkah Awal Penentu Masa Depan Kesehatan Anak Indonesia

Bagi calon Ibu dan Ayah di masa mendatang, penting sekali untuk merencanakan kebutuhan makanan beserta nutrisi yang terkandung untuk Si calon bayi dan Si Ibu supaya keduanya tetap dalam keadaan sehat selama masa kehamilan dan pasca melahirkan. 

Dilansir dari liputan berita yang ditulis oleh Humas Universitas Gajah Mada pada 26 Januari 2016, sekitar 8,8 juta anak Indonesia menderita stunting (tubuh pendek) akibat kurang gizi/gizi buruk. Kabar terbaru 21 November 2017 pada republika.co.idPakar nutrisi Fasli Jalal mengatakan Indonesia menjadi negara kelima terbesar di dunia yang memproduksi bayi dan balita bertubuh pendek (stunting).

Stunting

Stunting merupakan masalah kurang gizi kronis yang disebabkan oleh asupan gizi yang kurang dalam waktu cukup lama akibat pemberian makanan yang tidak sesuai dengan kebutuhan gizi, yang ditandai dengan tinggi badan yang lebih pendek daripada tinggi badan umumnya pada usia yang sama.
Sumber gambar: https://pbs.twimg.com/media/CFVoH4sUsAAlZts.png:large

Status gizi stunted (pendek) dan severely stunted (sangat pendek) didasarkan pada indeks Panjang Badan menurut Umur (PB/U) atau Tinggi Badan menurut Umur (TB/U) yang mengacu pada Standar Antropometri Status Gizi Anak menurut Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 1995/MENKES/SK/XII/2010.

Tabel 1. Standar Panjang Badan menurut Umur Anak Laki-laki Umur 0-24 Bulan

Tabel 2.Standar Panjang Badan menurut Umur Anak Perempuan Umur 0-24 Bulan

Tabel 3. Kategori dan Ambang Batas Status Gizi Anak Berdasarkan Indeks
(Sumber: Kementrian Kesehatan RI, 2010)

Pembacaan tabel yang benar diilutrasikan dengan contoh. Misalnya, seorang balita perempuan berumur 18 bulan memiliki panjang badan 73 cm. jika dilihat pada Tabel 2., panjang badan si balita berada di antara -3SD dan -2SD. oleh karena itu dapat disimpulkan si balita perempuan masuk dalam kategori status gizi pendek (stunted).

Stunting terjadi dimulai ketika janin masih dalam kandungan dan baru nampak ketika anak berusia 2 tahun. Hal ini menggambarkan adanya masalah gizi kronis, dipengaruhi oleh kondisi Ibu/calon ibu, masa janin, dn masa bayi/balita, termasuk penyakit yang diderita selama masa balita.

Upaya Mengatasi Stunting  

     1. Intervensi Gizi Spesifik

Upaya ini dilakukan untuk mencegah dan mengurangi gangguan secara langsung. 
Upaya intervenvensi gizi spesifik untuk balita difokuskan pada kelompok 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), yaitu Ibu Hamil, Ibu Menyusui, dan Anak 0-23 bulan, karena penanggulangan balita pendek yang paling efektif dilakukan pada 1.000 HPK. Periode 1.000 HPK meliputi yang 270 hari selama kehamilan dan 730 hari pertama setelah bayi yang dilahirkan telah dibuktikan secara ilmiah merupakan periode yang menentukan kualitas kehidupan. Oleh karena itu periode ini ada yang menyebutnya sebagai "periode emas", "periode kritis". Dampak buruk yang dapat ditimbulkan oleh masalah gizi pada periode tersebut, dalam jangka pendek adalah terganggunya perkembangan otak, kecerdasan, gangguan pertumbuhan fisik, dan gangguan metabolisme dalam tubuh. Sedangkan dalam jangka panjang akibat buruk yang dapat ditimbulkan adalah menurunnya kemampuan kognitif dan prestasi belajar, menurunnya kekebalan tubuh sehingga mudah sakit, dan risiko tinggi untuk munculnya penyakit diabetes, kegemukan, penyakit jantung dan pembuluh darah, kanker, stroke, dan disabilitas pada usia tua, serta kualitas kerja yang tidak kompetitif yang berakibat pada rendahnya produktivitas ekonomi.

Upaya  intervensi  tersebut  meliputi:  

1.Pada Ibu Hamil
  • Memperbaiki gizi dan kesehatan Ibu  hamil merupakan cara terbaik dalam mengatasi stunting. Ibu hamil perlu mendapat makanan yang baik, sehingga apabila ibu hamil dalam keadaan sangat kurus atau telah mengalami Kurang Energi Kronis (KEK), maka perlu diberikan makanan tambahan kepada ibu hamil tersebut.
  • Setiap ibu hamil perlu mendapat tablet tambah darah, minimal 90 tablet selama kehamilan.
  • Kesehatan ibu harus tetap dijaga agar ibu tidak mengalami sakit.
2. Pada saat bayi lahir
  • Persalinan  ditolong  oleh  bidan  atau  dokter  terlatih  dan  begitu  bayi  lahir  melakukan  Inisiasi Menyusu  Dini  (IMD).
  • Bayi  sampai  dengan  usia  6  bulan  diberi  Air  Susu  Ibu  (ASI)  saja  (ASI  Eksklusif). Pada bayi, ASI sangat berperan dalam pemenuhan nutrisinya. Konsumsi ASI juga meningkatkan kekebalan tubuh bayi sehingga menurunkan risiko penyakit infeksi. 
3. Bayi  berusia  6  bulan  sampai  dengan  2  tahun
  • Mulai usia  6  bulan,  selain  ASI  bayi  diberi  Makanan  Pendamping  ASI  (MP-ASI).  Pemberian  ASI  terus dilakukan  sampai  bayi  berumur  2  tahun  atau  lebih.
  • Bayi  dan  anak  memperoleh  kapsul  vitamin  A,  imunisasi  dasar  lengkap.
4. Memantau  pertumbuhan  Balita  di  posyandu  merupakan  upaya  yang  sangat  strategis  untuk mendeteksi  dini  terjadinya  gangguan  pertumbuhan.

5. Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) harus diupayakan oleh setiap rumah tangga termasuk meningkatkan akses terhadap air bersih dan fasilitas sanitasi, serta menjaga kebersihan lingkungan. PHBS menurunkan kejadian sakit terutama penyakit infeksi yang dapat membuat energi untuk pertumbuhan teralihkan kepada perlawanan tubuh menghadapi infeksi, gizi sulit diserap oleh tubuh dan  terhambatnya  pertumbuhan.

      2. Intervensi Gizi Sensitif

Upaya ini dilakukan untuk mencegah dan mengurangi gangguan secara tidak langsung. 
Intervensi gizi sensitif yang melibatkan berbagai sektor seperti ketahanan pangan, ketersediaan air bersih dan sanitasi, penanggulangan kemiskinan, pendidikan, sosial, dan sebagainya.

     3. Sanitasi dan Kebersihan 

Intervensi gizi saja belum cukup untuk mengatasi masalah stunting. Faktor sanitasi dan kebersihan lingkungan berpengaruh pula untuk kesehatan ibu hamil dan tumbuh kembang anak, karena anak usia di bawah dua tahun rentan terhadap berbagai infeksi dan penyakit. 

Paparan terus menerus terhadap kotoran manusia dan binatang dapat menyebabkan infeksi bakteri kronis. Infeksi tersebut, disebabkan oleh praktik sanitasi dan kebersihan yang kurang baik, membuat gizi sulit diserap oleh tubuh.

Rendahnya sanitasi dan kebersihan lingkungan pun memicu gangguan saluran pencernaan, yang membuat energi untuk pertumbuhan teralihkan kepada perlawanan tubuh menghadapi infeksi. Sebuah riset menemukan bahwa semakin sering seorang anak menderita diare, maka semakin besar pula ancaman stunting untuknya. Selain itu, saat anak sakit, lazimnya selera makan mereka pun berkurang, sehingga asupan gizi makin rendah. Maka, pertumbuhan sel otak yang seharusnya sangat pesat dalam dua tahun pertama seorang anak menjadi terhambat. Dampaknya, anak tersebut terancam menderita stunting, yang mengakibatkan pertumbuhan mental dan fisiknya terganggu, sehingga potensinya tak dapat berkembang dengan maksimal.


Referensi

Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kementrian Kesehatan RI. 2013. Hasil Riset Kesehatan Dasar 2013.

Kementrian Kesehatan RI.2010.Standar Antropometri Penilaian Status Gizi Anak.

Millenium Challenge Account-Indonesia.Stunting dan Masa Depan Indonesia. http://www.mca-indonesia.go.id diakses pada 30 November 2017.

Pusat Data dan Informasi Kementrian RI. 2016. Situasi Balita Pendek. ISSN 2442-7659. diakses dari depkes.go.id

http://nasional.republika.co.id/berita/nasional/umum/17/11/21/ozrwn5430-indonesia-negara-kelima-terbesar-produksi-stunting

https://ugm.ac.id/id/berita/11098-88.juta.anak.indonesia.alami.stunting 

9 komentar:

  1. Haii kakak informasinya sangat menarik untuk dibaca dan memberikan banyak wawasan hehee. untuk saran dari saya sih mungkin bisa diberi tambahan informasi lebih banyak tentang nutrisi dari makanan untuk mencegah kekurangan gizi dan menghindari stunting sehingga anak-anak indonesia bisa menjadi sehat walafiat serta dapat mencapai status gizi yang baik :))

    BalasHapus
  2. Terimakasih Edy untuk sarannya, sangat baik sekali. Tulisan ini masih akan saya update supaya lebih menambah wawasan pembaca

    BalasHapus
  3. Terima kasih monica, informasinya sangat bermanfaat untuk pencegahan stunting pada anak, saya ingin menanyakan bagaimana cara membedakan anak yang terkena stunting dan anak yang memiliki tinggi badan karena faktor genetik yang diturunkan dari orang tuanya?
    Terima kasih, semoga anda dapat menjawab di post selanjutnya ;)

    BalasHapus
    Balasan
    1. caranya adalah melalui pemantauan pertumbuhan anak dilihat dari usia, panjang/tinggi badan, dan berat badan mulai dari 0-2 tahun. Pemeriksaan melalui Posyandu, Puskemas, Ahli Gizi lebih dianjurkan.

      Dilansir dari Tulisan serorang ahli gizi lulusan Universitas Indonesia Arinda Veratamala, S.Gz. menyampaikan hasil penelitian Dubois, et al pada tahun 2012. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa faktor keturunan memengaruhi tinggi badan seseorang saat lahir dalam jumlah yang rendah (hanya sekitar 4,8-7,9% pada wanita). Namun, seiring dengan pertambahan usia, pengaruh faktor keturunan pada tinggi badan akan semakin meningkat, menggantikan faktor lingkungan yang semakin rendah.

      Sebaliknya, pengaruh faktor lingkungan seperti asupan nutrisi pada saat lahir ternyata sangat besar (sekitar 74,2-87,3% pada wanita). Hal ini membuktikan bahwa kondisi lingkungan yang mendukung dapat membantu pertumbuhan dan perkembangan anak lebih baik. Di awal-awal kehidupan anak, faktor lingkungan dapat memaksimalkan potensi genetik (keturunan) yang dimiliki anak. Sehingga, anak bisa mencapai tinggi badan optimalnya sesuai dengan potensi genetik yang ia miliki. Perlu diingat, tinggi badan merupakan akumulasi selama bertahun-tahun. Jadi, tinggi badan pada masa anak bisa memengaruhi tinggi badan dewasa.Pada awal-awal kehidupan, faktor keturunan hanya berperan kecil terhadap tinggi badan anak. https://hellosehat.com/parenting/kesehatan-anak/faktor-keturunan-pada-tinggi-badan-anak/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=rss

      Hapus
  4. "Terimakasih informasinya sangat bermanfaat"

    BalasHapus
  5. Sangat bermanfaat sekali informasi ini. Bisa untuk pengetahuaan, pelajaran dan persiapan buat calon ibu-calon ibu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terimakasih, jangan lupa diterapkan ya ketika memutuskan untuk berkeluarga dan menjadi calon Ibu:D

      Hapus
  6. Sebelumnya saya tidak pernah tahu apa itu stunting. Setelah membaca blog ini saya tahu apa itu stunting. Penting untuk memperhatikan semua aspek kondisi yang layak agar anak tidak terkena stunting.

    BalasHapus

Mengatasi Stunting - Langkah Awal Penentu Masa Depan Kesehatan Anak Indonesia

Bagi calon Ibu dan Ayah di masa mendatang, penting sekali untuk merencanakan kebutuhan makanan beserta nutrisi yang terkandung untuk Si cal...